
Oleh Febrianus Kori
Gambut di Wilayah Komunitas Masyarakat Adat Dayak di Binua Sunge Samak, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat bukan sekedar area hamparan Gambut biasa. Gambut disini memiliki fungsi untuk menahan air dan memiliki serapan yang tinggi, disisi lain merupakan ruang hidup bagi Masyarakat adat area yang dilindungi untuk menyimpan benda-benda adat.
Hingga kini, area Gambut Sunge Samak tetap dijaga sesuai aturan yang berlaku, namun pasca beberapa kali mengalami kebakaran membuat beberapa area gambut habis terbakar api. Padahal gambut di wilayah adat ini sangat di butuhkan sekaligus menjadi benteng terakhir dari gempuran perubahan iklim dan ancaman eksploitasi perusahan-perusahan untuk membuka area Perkebunan kelapa sawit.
Bagi Masyarakat adat Binua Sunge Samak, Gambut yang juga ditumbuhi pepohonan yang berakar ( Pohon Bajakah ) bisa menjadi obat tradisional dalam mengobati beberapa penyakit seperti sakit perut. Selain itu banyak juga tanaman yang bisa diambil seperti rotan dan bambu yang di jadikan sebagai anyaman.
Gambut dan air Sungai Ambawang
Ketua Adat Sunge Samak Pancaroba Amiang menjelaskan gambut bagi Masyarakat adat Sunge Samak tidak hanya bernilai ekonomi, melainkan menyimpan nilai spiritual. Ritual adat Balala Tamakng (Pantang Nagari) yang setiap tahun dilakukan untuk bertujuan membersihkan kampung dari hal jahat dan penyakit.
Dan Sungai memiliki arti kedamaian bagi kami untuk membersihkan diri, Sungai Ambawang yang Panjang yang memiliki air berwarna hitam karena dampak Gambut kami gunakan setiap harinya.
‘’jika Gambut dan Sungai kami rusak, artinya kamipun akan mati dengan sendirinya’’ kami gagal mempertahankan titipan dari orang tua kami yang mereka jaga ratusan tahun lamanya.
Pemuda adat bersuara
Para pemuda adat menilai bahwa perubahan iklim telah menggerus kearifan lokal yang selama ini diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan dalam membaca situasi alam seperti kapan akan kemarau dan kapan musim penghujan diajarkan kepada kami, namun melihat perubahan kondisi alam hari ini sudah sulit bagi kami dalam membaca situasi yang terjadi.
Franseda atau akrabnya dipanggil Seda, menjelaskan bahwa sejak kecil mereka diajak kedalam Kawasan Gambut untuk melihat sejah mana gambut memberikan dampak efektif bagi wilayah mereka. Mampu menahan air yang tinggi padahal wilayah ini berada didataran rendah.
‘’setelah melihat hal tersebut, bagi saya Gambut Adalah kehidupan yang tidak berujung dalam melindungi kami di wilayah ini, jika Gambut ini hilang kami pun akan hilang’’
Penulis Adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Kalimantan Barat